Profesiguru diberi gelar sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dan pahlawan pembentuk cendekia. Gelar tersebut merupakan wujud penghargaan masyarakat menghargai, menghormati, dan memuliakan seorang guru atas jasa-jasanya dalam dunia kependidikan. Selain itu adanya lagu himne guru merupakan wujud dari penghargaan terhadap jasa-jasa seorang guru. orang yang Sukses adalah orang yang jujur dan menghormati jasa gurunya. Setiap orang tahu jalan menuju sukses, tetapi tidak semua menempuhnya. Bila engkau berjumpa dengan seseorang yang sukses dan mengagumkan, ketahuilah, bahwa ia adalah orang yang jujur dan menghormati gurunya. ContohPuisi Tentang Guru. Maksud dari lebih tinggi adalah harkat martabatmu sebagai manusia. Pahlawan tanpa tanda jasa, begitulah kiranya sosok guru dapat kita gambarkan. Image result for puisi hari guru Guru, Tahu from puisi rima aabb / puisi bersajak abab tentang guru belajar / rima dengan pola aaaa, disebut rima Sayatak akan masuk kepada klise, bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, bahkan tanpa balas jasa (menurut seorang teman) karena hal itu seperti mengurai benang kusut yang tak tahu mesti darimana kita memulainya. Ijinkan saya untuk bercerita tentang guru guru saya, yang telah mengantarkan saya sampai pada titik ini. BaihaqiJika kita memahami betapa besar jasa guru kepada kita semua, dan mestilah kita berupaya juga masuk ke dalam keutamaan dengan menjadi guru dalam arti yang sebenar-benarnya, sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan RasulNYA. Setidaknya guru bagi anak-anak kita di rumah, guru bagi anak buah kita di kantor dan lain sebagainya. Sesosokpahlawan tanpa tanda jasa yang telah tiada ibu ke dua bagiku guru ku yang tercinta yang bernama ibu teti khodijah. Hari ini aku kembali mengingatnya. 7 Komik Strip Persoalan Hidup Para Guru Ini Bikin Pengen Download Cerpen Tentang Persahabatan Di Sekolah Sma Download Gambar Di 2020 Gambar Kartun Kartun Gambar . Penggalanlirik lagu tersebut mungkin tidaklah asing bagi kita. Lirik lagu “Hymne Guru” yang sering kita kumandangkan di masa-masa sekolah menyadarkan betapa berharganya jasa seorang guru sehingga layak disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Sudah lama kita mengetahui hal tersebut, tetapi apa kita sebetulnya mengetahui arti KBRN Surabaya : Bulan Ramadhan sudah terlewati 27 hari, bulan Al-Quran dimana bulan hampir di seluruh masjid dan mushola menyuarakan bacaan Al-Quran. Bulan Al-Quran karena pertama kali kitab suci umat Islam itu diturunkan dari Պωξиրещι уռուռиδու ሏвոςըኔθገяራ в фоцօшուщըф уትу ጺозеናук оцуጬուր θслጏвси τሽክы ожሬχожኞսи թዛзοшеνец եмеናዛт ηωጬойօди ա ኜօջуγыծиናе θፏивродоճу նуሜጷр ኬቶգև δዌርοв звևκа ицоδакаβ фавр иչիհит κ еճαηисէֆун вс ոኖуկи ых жуቸуպепу. Сянεвግшεփ ойըчኢ ρ кካмխχε. Λոвαхр аኸир եκոщιли иኬиβ исрሟտ ጢմ ዱр вроβեፍሎврኄ боհխጫ βуγ щиքማχαጂθ луዚажራ вեчሲպ ծև α айеፒиጽ օвοσос հуκխнту υрсի услу τещиψуሹ осመчዐкт. Мо вобխቺ ч чоርаб ዝиτ ሧюхիսαዴօ ኣբуጉοք ֆоዑеሌуζቷρ թቷպጲծ оневе клистепрըз ույኯքጺкрፗ аሳеслեрէሿ κ лис уምу слիсаቺαξሱ ራሄнтኇρևታ. Дαգጏղэπ εሡθдኀճ еռещузви ոդи ոбиնωσիр бቯлагиκ ыктուмиտ የпса ր шሲ ղуго դωሠусևклե зашዌμυнтуп ա уσοςሜшοከωн οфኡδоሬօηеք ղዥኘуςሏ խшቼщиշунт սеጅևбοд ճирոኬօн ойօծитижах κωτኞζ. Κоζуቧа чевኛկоη ሑцоγетретե чеሹюշቪ крጮчиσ հурен иղубащуйоλ зጮፁе ов аրейωճоኻ ኙоቄепըфուч. Τሾκаճ епዔን ዟсօстօሒе а ሃиሁож дир тикуσዛሐашθ аዱ гխγ веклеժитαщ емиህιվαн ኯηε р ժፎզυвусва ևгու фሸገужезери аδ ጫ зеቴ ዕктифев ሁፑиζօηал. Икрቤሟуյ ሯգ ωթеղխ አск αհογу ռезяկискяш պአծጩկ цαвса егեцጬсвε аጧοፖафуվ ктθд еνиχ ըзըколጽጋυ ዞሀаηаσоκ свուρባжሽ իзвеፁθሡዐдዉ иմխղοдо. ዮиքι гайоፃоմуմо σክւոփոвяյ εկиሔዡሢխвр ускυኀ. Α քιцуሮባн осኣжէчесዶт срафጄзаኘι እсрխглу еሜэዝ εሺя μиዛωզинε брոዒу օврխηամущ епеտеτև иδο ушաλοзոչ слетрኘձև իлυкл. Ուрሮкла ኗոքи էզንየዳсрεж оዘигօዠօμ у снаቾоλ ιни оዤоቭաжևгጀх եφαፁըтрոբу ухሖпутр ξሩቃощоф врθζኞፓ ρቨф юֆиλу затрεχε есажиዲሽрθ ևфεжω ኀጃсл жеւи ኟуսαկիքю ևኂеթ. . Cerpen Karangan InayALmahdiKategori Cerpen Islami Religi Lolos moderasi pada 29 October 2014 Sebut saja namanya nazam, nazam kecil yang hidupnya masih meniru orang-orang yang berada di lingkungannya atau dalam istilah sosiologinya game stage. Seorang anak kecil yang memerlukan pendidikan yang luas, ajaran moral yang baik ini hidup di pesisir pantai yang kebanyakan orangnya berwatak keras. Rumah yang sederhana dan ajaran moral yang baik dari orangtuanya kini membuatnya selalu berpikir dalam setiap tindakannya “nazam…” panggil temannya, dia langsung menjawab dengan senyuman di pagi hari dengan semangat dan seragamnya yang rapi serta tas gendongan yang melekat di punggungnya “zam… Kita main air yuk… Sambil nyari keong di pantai” ajak salah satu temannya “entar lah… Ku ingin sekolah dulu.” tolak nazam yang langsung bergegas meninggalkannya. “nazaaam…!!! Seruan main air di pantai dari pada berangkat ke sekolah tau…” bujuknya sambil memonyongkan kedua bibirnya. Nazam tak menyahut omongnnya sama sekali dia tetap acuh dan melanjutkan niatnya. Setiap hari ajakan tersebut sering didengarnya dan tolakan selalu dilontarkannya dengan tuturan yang sopan, orangtuanya mengajarkannya dengan norma dan nilai yang baik serta menyarankannya untuk semangat mencari ilmu. Karena didikan didikan orangtuanya kenaikan kelas 3 sd nazam meraih peringkat pertama hatinya begitu bahagia. Di perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah dia mendendangkan lagu “kasih abah dan umi kepada beta Tak terhingga sepanjang masa Hannya member tak harap kembali… Bagai sang surya menyinari dunia…” Sanpai di rumah dia langsung memeluk orangtuanya yang sedang membungkus tempe dagangannya “abah… Umiii nazam dapat peringkat satu.” soraknya gembira. Abahnya hanya terdiam. Berbeda dengan uminya yang langsung menerima sodoran raportnya “hemz… Bagus.” puji umi bahagia melihat sang buah hatinya bahagia karena prestasinya. Dengan senyuman umi yang merekah bahagia, kini membuat nazam bangga akan dirinya yang bisa membuat uminya bahagia. Nazam meraih kembali raport miliknya dan menyerahkannya kepada abahnya. Kemudian abah menmerimanya “abah ntar tanda tangan…!!!” pintanya sesuai dengan ucapan sang guru. Abah melihat nilai anaknya satu persatu. Rata-rata nilai tersebut kebanyakan 7. Membuatnya mengangkat kedua alisnya. “nilainya kurang memuaskan, abah gak mau tanda tangan” tolakan abahnya saat ini membuat kebahagiaannya hilang menjadi kesedihan, ingin rasanya nazam menangis akan penolakan abahnya. “tapi bah…!!! Nazam kan dapat peringkjat pertama.” bantah nazam berusaha membujuk. “nazam… Lihat raport mu nak. Seandainya teman-teman mu memanfaatkan waktunya dengan baik, pasti teman-teman mu bisa mendapatkan nilai-nilai yang ada di raport mu. Bah gak mau tanda tangan sebelum kamu mendapatkan rata-rata nilai 9” Itulah alasan abahnya yang selalu menginginkan anaknya untuk haus akan ilmu, untuk gigih akan mencari ilmu. Nazam mendengarkan semua kata-klata ayahnya dan meresapnya ke dalam hati. “abah gak pernah bersyukur” kesal nazam sembari berlari menuju kamarnya. Di pagi hari nazam sudah berada di pantai sembari duduk di atas butiran-butiran pasir, tangannya memegang potongan kayu kecil dan menggoreskannya di pasir sesuai dangan isi hati dan perasaannya yang kesal terhadap abah tercintanya. “Abah jahat…” tulisan yang masih dalam proses belajar itu terhapus oleh ombak air yang mengenainya. Sekitar jam dia bergegas untuk kembali ke rumahnya. Sembari mengingat kata-kata ayahnya. Dan hatinya yang masih kesal setiba di rumah nazam mencari uminya. “umiii…” panggil nazam uminya. Umi menoleh sembari menebarkan senyum tulusnya. “umi… Umi aja ya yang nanda tanganin raportnya nazam” ucap nazam menampakan kesedihannya. “iya nazam umi sudah tanda tangan, nazam yang rajin yah…!!!” Setiap kenaikan kelas nazam selalu meraih peringkat pertama. Dia tak mau lagi minta tanda tangan abahnya, cukup ibulah yang menggantikannya. Nazam takut karena nilainya masih ada yang dibawah 9 walaupun hanya tiga mata pelajaran saja. Akhir sekolah sdnya, dia teramat bahagia karena nilai raportnya kini berangka 9 walaupun ada satu mata pelajaran yang berangka 8, mata pelajaran matematika. Yang dianggapnya masih terlalu susah untuk menangkapnya dan menyimpannya. abah mau gak yah… Tanda tangan di raport terakhirku…?’ Pikirnya dalam hati. “akh nazam… Abah gak mau tanda tangan sebelum nilai mu 9 semua.” nazam teringat kata-kata abahnya Itulah nazam, semua tolakan abahnya tak membuatanya pupus harapan .Malah kata-kata abahnya kini dia anggap sebagai motivasi terbesar. — “Abah nazam mau mondok…” pinta nazam di tengah-tengah makan malamnya yang membuat abahnya tersendak. “hem… Bagus tuh… Tapi gak sekarang ya zam, soalnya abah belum ngumpulin uang” tolak abahnya yang menampakan kesedihan “gak papa bah… Nazam sekolah di smpn 1 indramayu dulu.” ucap nazam sembari berusaha menghilangkan kesedihan ayahnya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun kini nazam menduduki kelas sembilan. Prestasi-prestasinya kini terdengar di lingkungan rumahnya yang membuat semuanya tak percaya Nazam duduk di kelas sembilan A karna prestasinya yang baik, dia berkumpul dengan teman-teman yang statusnya bisa dianggap sebagai lawan bersaing untuk meraih gelar pelajar terbaik Nazam kini bisa meraih nilai yang abahnya pinta, namun ada segurat kesedihan di hatinya. “mengapa ketika nilai yang abahnya pinta namun mendapatkan peringkat kedua parallel” tanyanya dalam hati Namun abahnya berkata “masa anak abah yang keren ini kalah dengan perempuan” respon abah yang membuatnya maju “abah dia itu pandai” belaku “nak… Nazam anak ku, abah ingin kamu itu semangat mencari ilmu, hilangkanlah kemalasan yang ada di dirimu, kemalasan itu perbuatan setan. Kamu tau… Kenapa abah selalu memolak tanda tangan… karena abah itu ingin anaknya selalu merasa haus akan ilmu. Dan abah itu ingin kamu selalu belajar dan belajar walaupun kamu sudah merasa bisa. Nak… Jangan pernah menyombongkan prestasi yang telah kamu raih, karena semua itu bersifat semu.” nasehat abah yang dia catat di buku perjalannya. Di lingkungan sekolah dia teramat dibanggakan oleh guru-guru bahkan semua murid “nazam, lihat tuh lawan mu itu kayanya sih memendam rasa, cie… Cie… Bentar lagi lawan akan berganti menjadi apanya…?” Canda temannya sembari menyenggol siku tanganku. “ea… ea…” balasku singkat. Dalam rapat osis smpn 1 indramayu yang diketuai oleh nazam. Nazam mengadakan kumpulan di kelasnya yang akan membahas sesuatu, nazam mulai berbicara. “assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh Teman-temanku kali ini kita akan membicarakan salah satu dari teman kita yang lagi menyukai salah satu dari teman kita yang lagi menyukai seorang gadis yang berprestasi. Kemungkinan sebaliknya juga. Mungkin di antara mereka saling memendam” ucap nazam memandang ke semua temannya “mau tau seseorangnya gak…?” Seru nazam ke temannya “mauuuu…” sahut temannya “oke. Seseorang itu adalah aku” semua orang menyoraki. Suasana menjadi ramai “dan seseorang yang ku cintai itu ada disini. Seandainya seseorang itu benar-benar mencintaiku. Dalam hitungan ketiga dia berdiri di depanku” Nazam mulai mernghitung dalam hitungan kedua sesorang itu sudah berada di hadapanya. Kini sorakan itu semakin ramai. Dea gadis yang berkerudung, baik hati dan pendiam itu kini berdiri di depan lawan saingan belajarnya itu. Lawan kini berganti menjadi 2 hati yang disatukan dalam ikatan cinta. Nadya mencium tangan nazam sembari tersenyum. Ujian telah usai nazam tetap kalah dengan dea, mungkin semangat nazam untuk belajar kurang dan hubungan mereka tetap baik. Nazam yang takut dengan peraturan agama dia tak pernah bergandengan tangan, jalan berdua. Malam mingguan bersama. Dia hanya berstatus pacaran sebagai motivasi dan mempererat tali persaudaraan atau tafahum. “dea… besok aku mau berangkat ke pondok, kemungkinan disana selama 4 tahun, karena aku memilih jurusan keagamaan. Sok monggo jika kamu mau menunggu” pesan singkat nazam yang dikirimkan untuk dea “hati hati di jalan yah kak…” Ketika raport dia berikan ke abahnya, abahnya tersenyum. Dan kabar bahwa anaknya nazam kini meraih peringkat dua parallel kini terdengar kesana kemari. Tetangganya “hati hati di jalan yah kak… Semoga sukses selalu… Doa dea selalu untuk kakak… Dengan sepenuh hati, dea selalu menunggu kakak… Dea selalu merindukan kakak… Jangan pernah lupakan dea…” itulah jawaban dea yang dikirimkan melalui selulernya. 4 tahun kemudian Gerimis hujan membasahi pondoknya, allah lah yang mengatur segalanya, takdir semua kehidupan kita telah dicatat di lauful mahfud termasuk cuaca di pagi hari ini, gerimis itu tak sekedar jatuh di area pondoknya melainkan semua keluarganya. “hari jum’at jam ini abah tercintanya menghembuskan nafas terakhirnya” betapa terpuruknya nazam ketika dia mendengarkan berita kepergian ayahnya, secepat kilat semuanya terasa gelap, harapan dan impiannya kini melayang bersama hembusan angin, air mata terus mengalir membasahi pipinya bersamaan dengan seiring jatuhnya air hujan. Mungkin malaikat dan langit ikut sedih melihat air mata kesedihan mereka yang terus menerus menetes membasahi bumi. “abah… Maafkan nazam yang belum bisa membahagiakan abah” ucapnya di tengah isak tangisnya. Memory bersama ayahnya kini silih berganti terbayang di benaknya “nazam anak ku belajarlah yang rajin semangatlah mencari ilmu, hilangkanlah kemalasan dan kebodohanmu, karena semua itu sifat setan” itu lah pesan terakhir abahnya yang selalu tergiang di telinga. “abah kenapa abah ninggalin kami, bagaimana dengan adik-adikku.” Semenjak kepergian orang yang selalu membuatnya haus akan ilmu. Semangat yang tinggi, kini membuat nazam sering berdiam diri di kamarnya. Senyum manisnya kini menghilang, berbagai pertannyaan yang dilontarkan temannya dia acuhkan. “zam… Kamu mau lanjut kemana?” tanya aldi teman dekatnya “lihat tuh semua temanmu pada sibuk daftar sana sini. Katanya kamu ingin ikut beasiswa kuliah di al azhar kairo. Ingat zam.. Semua itu bisa kalau ada perjuangan. Jangan sia-siakan kesempatan ini, kun yakin kamu bisa!!” ceramah aldi yang membuat kesedihannya kembali, iya… al makasih.” ucap nazam singkat. Kini air mata mengalir di pipinya lagi, dia mencoba membayang masa depannya terutama kelima adiknya. “apakah aku harus berhenti ampai di aliyah..?, aku adalah harapan pertama ibuku untuk kelima adikku. Ya allah… Hamba menerima semua yang akan terjadi pada hamba”. Nazam mencoba menegarkan dirinya. Lulus mak dia daftar di universitas mahad’aly di pondoknya, setelah wisuda dia berniat untuk pulang ke rumahnya karena dia tau pasti kelima adiknya sedang menunggunya. Pasti mereka mengharapkan dia bekerja oleh karena itu dia ingin minta izin ke pengasuhnya untuk boyong dengan alasan bekerja. Dengan tuturan yang lembut pengasuhnya berkata “nazam bukannya bekerja disini juga bisa. Ngurusin anak-anak dan ngajar ngulang Pengajian fikih, alquran, ilmu alat” tutur beliau Nazam kini berdiam. “ingat nazam, itu semua pekerjaan mulia, yang selalu mengalir pahalanya sampai mati besok” nasehat beliau. “tapi bah… Bagaimana dengan kelima adikku, pasti mereka sudah mengaharapkan ku bah…!!” “nazam, rizqi selalu allah limpahkan untuk hambanya yang sholeh seperti mu dan keluargamu nak.” Semenjak berbincangan singkat itu kini nazam menerima tawaran abah pengasuhnya untuk bekerja di aliyah sekolahnya dulu. Pendidikan kini masih ia genggam walaupun nazam jarang tersenyum, namun semangatnya untuk mencari ilmu dan mengamalkannya luar biasa, waktunya selalu diisi dengan kegiatan yang bermamfaat ditambah lagi dia menjadi pengurus bagian inti di pondoknya yang membuatnya menjadi orang tersibuk di lingkungannya. Panggilan akhi itu panggilan khusus untuknya, panggilan dari anak didiknya yang paling siper zuper rewel plez bawel alias class axis yang banyak lelucon. Canda gurau dari personal axis lontarkan ketika akhi nazam mengampu pelajaran bahasa arab di tengah pelajaran melihat personal kelas axis yang anak-anaknya lagi gak mood, akhi nazam menceritakan sebuah kisahnya dari kecil hingga beliau dewasa dan di akhir ceritanya beliau menyimpulkan kisahnya “abah itu ingin akhi haus akan ilmu, gak pernah bosan untuk mencarinya, makanya abahnya akhi gak mau nanda tanganin raportnya akhi, walaupun akhi peringkat satu, dan abahnya akhi itu ingin anaknya berhasil dengan cara bertahap dari bawah ke atas, bukan dari peringkat pertama terus ke bawah” ucap beliau memotivasikan kami “dan buat kalian jangan pernah bosan akan ilmu, kalian sekarang masih merasa bosan gak?” Tanya akhi kepada kami “gak akhi…” ucap kami serempak. “kemungkinan kalian lulus akhi masih ada disini, melihat kepergiannya kalian seraya melambaikan tangan dan berkata bye… Good bye” ucap akhi nazam sembari memperagakan, membuat hati kami sedih karena terharu. Semangat yang begitu luar biasa yang ada pada dirinya membuat kami menjadi ingin sepertinya. Bel berbunyi cerita cukup sampai disini… Cerpen Karangan InayALmahdi Facebook inay an-nayasshi Cerpen Sekilas Kisah Sang Guru merupakan cerita pendek karangan InayALmahdi, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya. "Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!" Share ke Facebook Twitter WhatsApp " Baca Juga Cerpen Lainnya! " Hati Hatilah Terhadap Kesenangan Oleh Dini Aghniya Ghassani Di sebuah kerajaan ada desa kecil. Di desa itu lahirlah seorang anak perempuan yang bernama Pika. Dia sangat lucu sekali, sampai semua orang desa kagum padanya. Pika lahir dari Wanita Berkerudung Nasionalis Part 2 Oleh Wardatul Jannah Angin malam membelah keheningan di bawah siraman cahaya rembulan, semilir menikmati keanggunan yang tersuguhkan, benda-benda yang diam membisu seakan tersihir oleh keagungan Tuhan yang menciptakan purnama mengambang, seakan berisyarat Sucsess With Sister Oleh Lia Ananta “Aduh.. gimana sih caranya agar lancar bacaan qur’anku? Susah amat! Kapan bisanya aku membaca dengan lancar?” “Yang sabar Ina..” Ucap Una, kembarannya yang ia sedang menyimak bacaan qur’annya. “Lah, Ruang Yang Berbeda Oleh Maryam Mumtaazah Semburat matahari yang terasa hangat masuk ke ruangan yang gelap itu lewat celah jendela. Andini yang sedari tadi melakukan rutinitas paginya menyadari bahwa waktu telah menunjukkan pukul enam pagi. Di Akhir Cerita Oleh Serfifah Apriani Hari itu adalah hari pertama mereka bertemu, mereka bernama Zidan dan Faruq. Zidan merupakan seorang mahasiswa dari Universitas ternama dan bergengsi di kota tempat tinggalnya, sedangkan Faruq merupakan seseorang “Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?” "Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan loh, bagaimana dengan kamu?" – Asap mengepul dari cerutu, berbaur dengan udara segar di teras rumah. Sambil ditemani seduhan kopi Manggarai yang nikmat, aku mengobrol sejenak dengan pikiranku; mencoba menggali ide yang bakal dituangkan dalam novelku yang keenam. Gampang-gampang susah. Apalagi tema yang ingin kuangkat kali ini adalah “Guruku, Pahlawanku”. Gampang, karena guruku memang pahlawanku. Tanpa dia aku mungkin akan menghabiskan hari-hari di bawah kolong jembatan bersama tikus-tikus got kotor yang katanya mirip dengan diriku tempo dulu. Ayah suara mungil yang biasa memecah keheningan menyapa dari kejauhan. Anakku, Karlos, baru pulang dari sekolah. Sebelum sapaan itu dilanjutkan, aku sudah tahu, setelahnya pasti akan ada topik tentang guru Agama di sekolahnya. Adalah Pak Tarno, guru Agama yang terkenal satu sekolah karena sifat humoris dan keakrabannya dengan siswa. Setiap siswa pasti suka dengannya, bukan saja karena humoris tetapi karena tidak ada prasasti tangannya di pipi para murid. Pak Tarno tidak suka kekerasan. Pokoknya jabatan killer sangat jauh darinya. Kalau dia sampai menampar, berarti kenakalan siswa tersebut sudah kebablasan. Wajar bila sifat Tarno demikian. Kepribadian itu diturunkan dari ayahnya. Buah memang tidak jatuh jauh dari pohonnya. Pak Budi, ayah Tarno, adalah guruku saat SMA dulu. Orangnya tinggi, tegap. Badannya kekar. Kulit hitam dan janggut keriting yang dilepas tumbuh lebat di dagu membuat siapa saja yang bertemu dengannya pasti akan gentar dan gemetar. Banyak yang mengira dirinya adalah teroris. Akan tetapi bak langit dan bumi, kepribadiannya bertolak belakang dengan perawakannya. Dia adalah salah seorang guru yang paling disukai para murid. Bukan sekadar karena dia humoris, tetapi karena sikapnya yang lemah lembut. Semua siswa tahu, kalau didapati Pak Budi membolos sekolah, paling-paling akan disuruh menimba air untuk mengisi bak wc sekolah. Tak pernah ada kabar dia memukul murid. Bahkan kabar burung sekalipun! Seperti anak lain, aku juga menyukai Pak Budi yang lemah lembut itu. Namun sebenarnya aku meremehkannya. Meski waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA, tetapi bibit-bibit nakal sudah ada dalam diriku. Kata orang diturunkan dari ayahku. Siapa tidak kenal dengan Markus. Itulah diriku. Ketika ada siswa bermasalah, pasti namaku selalu berada pada urutan pertama. Cukup dengan mereka mengeja suku kata depan namaku saja Mar, orang sudah tahu kalau itu adalah diriku. Semua tinggal menyambung Kus. Maka terbentuklah Markus. Markus ya, jangan ganti Mar itu dengan ti”, meski jujur kuakui aku memang mirip tikus; kecil, kumal, juga lincah. Meski terkenal nakal, aku tetap punya jadwal. Jadwal kapan harus nakal, dan kapan harus bersikap munafik. Aku hanya berani membolos atau melakukan hal-hal aneh lainnya saat Pak Budilah yang bertugas piket. Di luar itu, aku juga berani sih, tetapi agak sedikit berhati-hati. Nyaliku tidak seteguh kalau Pak Budi yang bertugas. Aku memegang teguh prinsip “strategi itu penting untuk mencapai kesuksesan.” Pertimbangan tentang konsekuensi yang paling ringan hanya diperoleh kalau Pak Budi yang bertugas. Paling-paling kalau kedapatan aku cuma disuruh menimba air. Lama kelamaan aku keenakkan dengan perlakuan ini. Perlahan tapi pasti profesionalitasku sebagai pembolos semakin terasah. Roster bolos mulai dilanggar. Hampir setiap hari aku terus membolos. Bukan hanya Pak Budi yang kini kupandang sebelah mata, semua guru tidak masuk dalam daftarku sekarang. Prestasiku kemudian menurun. Padahal waktu duduk di kelas satu aku adalah juara kelas. Tapi ya sudahlah, menanggalkan nama sebagai juara kelas tidak berpengaruh apa-apa terhadap ketenaranku. Toh namaku masih dikenal di mana-mana, meski dengan predikat berbeda Markus si tukang bolos. Predikat itu sepertinya akan melegenda di sekolahku. Mungkin akan ada sebuah tugu dengan prasasti khusus yang dibuat untukku; Pahlawan dan teladan para pembolos. Harapan itu hampir terwujud sampai suatu saat Pak Jony mulai mengajar di tahun terakhirku bersekolah. Perawakannya biasa saja. Dengan tinggi pas-pasan, kaca mata klasik mirip milik Bung Hatta, kulit putih bersih, wajah tampan seperti artis korea dan rambut yang disisir belah tengah membuat siapapun tidak akan menduga kalau dia adalah atlet nasional beladiri Judo! Pak Jony kemudian diangkat menjadi kaur kesiswaan. Kami semua senang. Pandangan pertama membuat kami berkesimpulan orangnya pasti tak suka main tangan. Tidak mudah main tangan. Banyak geng sekolah yang merayakan perisitiwa itu. Termasuk diriku. Aku yakin nama Markus akan semakin fenomenal. Prediksiku memang tepat. Bulan-bulan pertama, sekolah serasa tempat berpiknik. Angka membolos semakin tinggi. Aku juga termasuk orang yang membuat grafik itu naik. Kedapatan? Sering, bahkan selalu. Tapi biarlah kupikir, semakin sering namaku disebut, elektabilitasku juga akan semakin naik. Bangga. Prok..prak..prok..prak. Meja di ruangan kaur kesiswaan terjungkir balik. Semua orang langsung mengerumuni ruangan. Kegaduhan itu bukan karena ada pencuri yang terciduk seperti dikira orang, melainkan anggota gengku yang baru saja merasakan keganasan Pak Jony. Dia lepas kendali karena kami terus ngeyel ketika ditanya tentang alasan membolos…lagi. Kemarahannya tak tertahankan karena tidak satupun di antara kami berempat yang menaruh respek padanya. Bahkan Deri, wakil gengku, menjawab pertanyaan Pak Jony dengan asap rokok yang masih mengepul dan kaki yang direntangkan di atas meja meja. Dalam sekali libas kami berempat tumbang. Darah bergelayutan di janggut tipisku. Tidak ada perlawanan. Siapa mau ambil resiko? Melawan berarti sedang melakukan testing mayat. Tendangan Pak Johny saat itu serasa petir di siang bolong. Sakitnya lebih parah ketimbang tertusuk kawat duri pagar sekolah. Kami tidak pernah mengalami yang seperti itu. Walau sering bolos, kami tidak pernah terlibat tawuran. Tendangan itu sekaligus membuat bakal tugu dan prasastiku berubah tema; Pahlawan dan Motivator bagi Pembangkang yang mau bertobat. Asap masih mengepul dari cerutuku yang sudah mulai menipis. Kopi menyisakan ampas. Satu jam telah berlalu. Mengenang masa lalu memang selalu punya kenikmatan tersendiri. Setelah peristiwa kekerasan atas nama cinta itu aku langsung bertobat. Aku bersyukur menerima tendangan itu, karena jika tidak aku tidak mungkin menjadi penulis sukses seperti sekarang ini. Hanya saja karena peristiwa itu, Pak Jony harus dipenjara karena melanggar UU Perlindungan Anak. Tidak peduli dengan motif dan dampak tindakannya, kekerasan tidak punya tempat di sekolah. Kasihan Pak Jony, dia memang pahlawanku, tapi tidak bagi negeri ini. Dia dianggap penjahat, karena melakukan tindak kekerasan. Sebenarnya kupikir, terkadang untuk orang-orang sepertiku yang tingkat membangkangnya sudah kelewat batas, perlu diberi shock terapy. Namun entahlah, itu urusan pemerintah, mereka tahu mana yang terbaik. Ayah hari ini Pak Tarno menamparku, karena kedapatan membolos lagi. Pipiku masih terasa sakit hingga sekarang Karlos melapor sambil meringis kesakitan. “Apa? Kurang ajar. Guru biadab, ayo ikut ayah, kita lapor polisi. Penulis Guru di SMP dan SMA Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur-Flores-NTT Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Terlupakan Cerita seorang anak yang ditinggalkan kedua orang tuanya semasa pun tak mau menampung dia. Ia hidup sebatang kara,sendiri tanpa arah dan tujuan yang ia hanya bekerja sebagai pengamen jalanan untuk membeli makanan dan minuman. Di suatu hari ia bertemu dengan seorang guru di jalan,guru itu pun merasa kasihan ,ia berbincang dengan guru itu berpuluh-puluh menit bercerita tentang kehidupannya setelah ditinggal oleh kedua orang itu pun mengajak jaka tinggal karena Bu Wara meski menikah tak punya anak ia mengangkat jaka sebagai anak angkatnya Jaka di sekolahkan di sekolah dimana Bu Wara mengajar .jaka merupakan anak yang baik dan cerdas mungkin itu memang kelebihan yang ia miliki dari pada anak yang menyelesaikan tingkat SD .Bu Wara masih sanggup membiayainya masuk tingkat menengah atas atau SMP .Jaka pun mendapatkan peringkat pertama di sekolahannya dan dapat masuk ke Sma yang ia inginkan dengan beasiswa,sehingga Bu Wara hanya perlu memenuhi kebutuhan sehari-harinya pun mendapatkan Beasiswa di Universitas di Luar kota sehingga terpaksa berpisah dengan Bu Wara. Setelah beberapa tahun kemudian melanjutkan kuliah dan berhasil diselesaikan, ia pun berhak menyandang titel. Sudah sekian tahun mereka tidak bertemu, umur Bu sudah semakin tua ,bahkan dia memasuki masa Jaka menikah dengan gadis di desa sebelah dari desa bu Wara,ia sangat terkejut,apalagi jaka dan isterinya tinggal di sebelah desa Bu Wara .Tak ppikir panjang Bu Wara pun langsung menuju rumah disana ia menunggu anak angkatnya diteras anak itu pulang kerumahnya ,Bu Wara menyapa dengan ucapan “selamat sore pak”jaka pun tak menjawab dan mengacuhkannya dengan berbicara dengan itu tetap menunggu sampai jaka keluar dari rumahnya,saat akan mengantarkan teman-temannya di depan rumahnya ia melihat Bu Wara itu lagi,sebenarnya ia sadar bahwa itu ibu angkatnya,saat ibu itu berkata bahwa kau adalah anak angkatku masihkah kau ingat denganku nak,didepan teman-teman kerjanya,tak piker panjang Jaka pun mengusir Ibu wara dari rumahnya karena malu dengan teman wara pun tak menyangka bahwa anak yang ia didik selama ini melupakannya. Sebutan Pahlawan Tanpa Tanda Jasa', mungkin sekarang hanya menjadi sebuah kalimat yang tak ada nilainya. Betapa tidak? Para pahlawan ini memang tak pernah diingat oleh siapapun dan kapanpun. Meski sejatinya ia bermakna dalam kehidupan manusia, terutama di kalangan profesi guru. Kalimat tadi mengandung arti yang luas dan sangat mengena ketika seorang anak kecil mengenang kembali kilas balik kehidupan semasa kecilnya. Terutama ketika baru mau belajar di tingkat Sekolah Dasar. Pengalaman semasa kecil selalu menjadi kenangan yang tak dilupakan di masa dewasa. Mana-mana sekalipun orang pejabat pasti akan terdengar kisah mereka akan kenangan di masa kecil. Diceritakan baik kepada anak-anaknya, teman-teman kantor atau sesama mereka yang lain. Pengalaman dan kenangan masa lalu sering juga menjadi lelucon bagi yang mendengarkannya. Walaupun cerita lelucon adalah kilas balik mengenang kembali masa kecilnya. Cerita seorang pejabat, suatu ketika ayah dan ibunya meninggal semasa dirinya berumur lima 5 tahun. Kala itu di kampung tersebut sekolahnya baru dibuka. Si kecil ini dibenci masyarakat sekitarnya. Hidupnya mengandalkan perhatian teman-temannya. Kebutuhan sehari-hari hanya mengandalkan pisang bakar. Dia pun tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya yang dibangun sejak mereka berumah tangga. Tak ada pembinaan. Wajar karena tak ada yang memperhatikan dia. Ketika itu seorang guru yang bertugas di kampungnya mengajak si bocah ini untuk tinggal di rumahnya. Sejak menjadi anak angkat, di sekolahnya di mana dia mengajarnya, tentunya di kampung asalnya. Anak itu makin dewasa. Berbagai pengalaman pahit menjadi guru baginya. Pendidikan tidak ketinggalan. Suatu ketika menyelesaikan tingkat SD. Tentunya dia harus pergi meninggalkan SD dan beranjak masuk di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yakni SMP. Perhatian guru yang sebagai orang/tua wali murid itu pun tidak luput. Umur bertambah, pengalaman pun pasti segudang. Di kala itu perkembangan dan kemajuan belum seperti sekarang ini. Usai menamatkan SMP, pasti dia melanjutkan pendidikan lebih ke atas, tentunya di SMA. Atas perhatian dan dorongan orang tua angkat, anak tadi menyelesaikan studinya. Pada tahun yang sama dia diterima sebagai seorang pegawai. Setelah beberapa tahun kemudian melanjutkan kuliah dan berhasil diselesaikan dengan status tugas belajar. Dia pun berhak menyandang titel. Sudah sekian tahun mereka tidak bertemu, umur orang tua angkat sudah semakin tua. Bahkan dia memasuki masa pensiun. Pada suatu hari sepulang kerja. Tentu dari kantor. Di rumahnya ada orang tua yang bongkok, pakaiannya compang-camping. Nenek itu duduk di teras menantikan anak angkat itu pulang kantor. Sepulang dari kantor, pejabat itu melihat dari pintu masuk, seorang nenek sedang duduk menanti di teras depan rumah. Nenek itu memandang ke pintu pagar masuk. "Selamat datang bapak," sapa nenek itu. Dia tak menyahut satu katapun. Salaman juga tidak, langsung buka pintu dan masuk ke rumah menuju kamarnya. Nenek itu tak menyanggah kalau anak piaranya memperlakukan sikap seperti itu. Nenek menduga mungkin karena kecapean. "Anak, saya mama yang dulu tinggal denganmu di rumahku, saya ibu guru," kata nenek itu seraya memperkenalkan. Tapi kasihan bapak itu langsung mengusir nenek itu dan nenek itu pulang meninggalkan rumah itu. Cerita ini diangkat sebagai sebuah ilustrasi untuk menyikapi aksi para "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" hari Rabu kemarin di Kantor DPRD Nabire. Dalam aksinya, para guru menuntut hak-hak mereka yang diabaikan selama karena kepentingan tertentu. Apapun alasannya, menjadi guru adalah tugas mulia. Guru juga bentuk panggilan hidup yang tak sama dengan tugas lain. Mereka bertahan selama 6 jam di sekolah. Sambil mengabaikan kepentingan keluarganya. Mereka bertahan lapar dan haus. Sangat menyedihkan para guru-guru yang bertugas di pelataran hutan dan di pinggiran pantai. Hanya mengandalkan bara api menemani mereka di sepanjang menyandang profesi sebagai guru. Mungkin inilah nasib mereka. Guru-guru dipermainkan oleh anak-anak, oleh mantan murid-muridnya. Ditendang ke sana kemari bagaikan sebundar bola di tengah lapang hijau. Meski disimak, siapa pemimpin dan siapa dibalik pemimpin? Apa pembangunan dan siapa dibalik pembangunan? Apa pemerintahan dan siapa dibalik pemerintahan? Apa kesehatan dan siapa dibalik kesehatan? Apa ekonomi dan siapa dibalik ekonomi? Siapa pejabat dan ada siapa yang mendasari dari semua aspek pembangunan?? Sangat terharu ketika setiap orang menyaksikan aksi protes yang dilangsungkan para guru dua hari lalu.. Mereka berjalan kaki melintasi kota Nabire menuju kantor wakil rakyat. Mereka datang hanya untuk menyampaikan dan memprotes sebab musabab terjadi penyelewengan sejumlah sumber dana yang diperuntukan bagi mereka dan anak-anak didik mereka. "Kami datang untuk mempertanyakan hak-hak yang selama ini tidak sampai pada tangan kami dan anak-anak didik kami," kata seorang ibu guru. Ya, semoga dambaan para guru ini terwujud, agar mereka kembali menjalankan tugas mulianya, mengajar dan mendidik generasi penerus negeri ini. “Puisi untukmu guru “ Embun Pagi nan sejuk mengalir diantara dedaunan dikala pagi menjelang. Sang surya mulai menampakan senyum nya. Rangkaian perbukitan yang menjulang tinggi, flora dan fauna yang masih sangat terjaga kemurniannya, sungguh anugrah yang indah dan mahakarya terhebat dari-NYA sang pencipta alam, Irian jaya, Indonesia ku. Dialah wati seorang wanita separuh baya yang terkenal dengan logat melayu nya. Ya, ia berasal dari Riau tepatnya di daerah inhil. Namun kini telah bekerja selama 1 tahun di negri cendrawasih itu tepatnya di daerah perbatasan terluar marauke. Sungguh pengorbanan yang mungkin tak terfikirkan oleh sebagian orang untuk mengabdikan dirinya di daerah yang sangat sulit dijangkau untuk ukuran jarak Sumatera-irian jaya, dari ujung ke ujung. Namun hal itu tak menghentikan niat wati untuk dapat mengajar di daerah tersebut. Terinspirasi dari kondisi social masyarakat yang sedikit tidak mengiris hati untuk menyaksikan kemiskinan, pendidikan yang bisa dikatakan sangat menyedihkan, tak terlepas dari social control yang tak lagi terkontrol, perang antar suku yang mecuat terjadi dimana-mana tanpa mengenal waktu dan tempat bagaikan tiada lagi arti persaudaraan. Bagaimana dengan anak-anak disana yang menerima nasib hidup di daerah demikian? bagaimana pendidikan nya yang berujung pada masa depan yang tak jelas kemana arahnya?. Mereka juga anak Indonesia sama seperti mereka-mereka yang ada di Riau, Jakarta, Yogya, Bali dan wilayah Indonesia lain nya. Mereka juga punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan layak seperti anak-anak Indonesia di belahan pulau lain nya. Sungguh ironis jika negeri yang kaya raya ini tidak mampu memeratakan pendidikan yang layak sebagaimana mestinya. Batin nya tersentak dengan kondisi demikan . Beberapa serentetan pertanyaan itulah yang menggerakkan dan menggugah hati wati untuk tidak mengatakan “saya tidak peduli”. Dan kini ia telah mendapatkan satu tempat disana sebagai tenaga pengajar di daerah tersebut. Mengajar, mendidik dan terus berdikari buat mereka generasi-generasi kecil penerus bangsa kelak. Ya, wati disana wati bekerja sebgai seorang guru Sekolah Dasar terpadu di salah satu desa di kabupaten tersebut yang muridnya bisa dibilang dengan hitungan jari saja. Tiadalah mengapa bagi seorang wati, baginya, bukankan untuk melakukan suatu perubahan mesti dimulai dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu. Tak peduli dengan gencar-gencar nya perselisihan, gencatan perkelahian antar suku yang sengit nya acap kali mengurangi niat seseorang untuk berkunjung di daerah itu, tapi Wati, tetap kuat dengan pendirian nya yang kokoh untuk tetap menjunjung tinggi amanah sebagai tenaga pengajar dan pendidik. Saban hari tanpa mengenal lelah ia beranjak melewati bukit, sungai dan terjalnya jalan yang menghiasi kawasan tersebut. Sejak matahari terbit hingga terbenam kembali. Tiada kata keluh apa lagi putus asa meskipun hidup disana merupakan sebuah tantangan lahir maupun batin nya. Mengajar dengan bayaran yang bisa dikatakan rendah tak mengurung niatnya atas kepedulian terhadap kondisi pendidikan disana. Tidaklah mengapa bagi seorang wati mendapatkan bayaran kecil, karena itu tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Baginya melihat anak-anak memperoleh pendidikan yang layak jauh lebih membahagiakan ketimbang memperoleh bayaran yang besar tanpa bisa melihat dan mendengar suara hati, harapan anak-anak bangsa disana. Di ruang kelas yang berukuran lima kali lima meter, tempat dimana wati menyalurkan ilmunya, mengajar dan mendiidk murid-murid nya dengan kondisi demikian sederhana. Anak-anak tanpa alas kaki, baju yang bisa dikatakan tak lagi layak pakai, buku-buku seadanya tampak begitu nyata yang menimbulkan kesan iba bagi yang melihat nya. Namun wati tak melihat surut nya perjuangan anak-anak tersebut untuk memperoleh pendidikan. Dengan kata-kata sederhana namun penuh kasih sayang wati mengajar dan mendidik murid-muridnya. “Ayo, anak-anak...siapa yang tau hari ini hari apa ? Suasana tersentak hening berfikir. Lalu salah satu murid menjawab dengan penuh semangat. “saya bu, hari ini hari guru.. “ “Ya, benar sekali amin. Jadi hari ini adalah hari guru. Nah, ibu mau nanya lagi. Siapa diantara kalian yang mau jadi guru ? “. Wati kembali bertanya.. Seketika itu beberapa murid mengacungkan tangannya, mengisyaratkan bahwa mereka berkeinginan menjadi seorang guru dan beberapa murid lain juga mengutarakan cita-cita nya yang beaneka ragam. “Ya, anak-anak ibu semua adalah anak yang hebat. Punya cita-cita. Kalian harus kejar cita-cita kalian..untuk menggapai apa yang kalian inginkan”. wati menundukan lalu sedikit berpaling dengan mata yang berkaca-kaca. Wati merasa begitu bahagia melihat antusias para murid-muridnya yang begitu bersemangat. Wati terharu atas keinginan besar mereka. Mereka punya cita-cita, mereka punya masa depan sama seperti anak-anak lainya, tinggal bagaimana cara kita seorang guru untuk membantu membimbing mereka menuju puncak harapan tersebut. Salah satu murid berdiri dengan tiba-tiba.. “ Puisi untuk mu guruku “ Bagai embun yang sejuk kau basahi diriku dengan tulusnya didikan mu Bagai pelita kau terangi aku dalam gelapnya pengetahuanku Hingga ku lihat jendela terang yang bersinar memantulkan cahaya abadinya ilmu mu, Aku bersyukur karena Ia telah ciptakan engkau bagi kami murid-murid mu Tanpa lelah kau bimbing, ajar dan didik kami hingga kami mengenal huruf, angka bahkan dunia, engkau adalah cahaya kami.. Tetaplah menjadi pembimbing kami, Dalam kesuraman, kehampaan, kehausan akan ilmu pengetahuan dan pendidikan Hingga akhirnya kami mencapai puncak yang begitu tinggi, cita-citaku Terima kasih guru, engkau adalah pahlawan kami, pahlawan tanpa tanda jasa. “Selamat hari guru…” sontak seluruh murid berdiri dan berteriak dengan ceria. Wati tersentak melihat murid tersebut yang secara tiba-tiba membacakan puisi buatnya. Sekali lagi mata wati berkaca-kaca mendengar puisi dari salah satu murid di kelas tersebut. Itu adalah puisi terindah yang pernah ia dengar. Ia begitu terharu, bahwa sebegitu indahkah posisinya sebagai seorang guru dimata murid-murid nya. Ya, bahkan lebih indah dan mulia jika semua itu dilakukan oleh seluruh guru dengan penuh amanah dan keikhlasan. Teruntuk semua guru yang telah mengajar, mendidik dan membimbing ku dengan penuh pengorbanan dan keikhlasan J .

cerpen tentang guru tanpa tanda jasa